Cuma Satu: We are Different

Jangan anggap ‘gw’ di sini adalah gw, si penulis. Jangan anggap pula ini fakta.

Gini. Gw selalu merasa dia adalah A dan gw adalah B (asumsi adanya perbedaan value). Akan tetapi, di saat yang sama dia selalu bersikeras kalo dia adalah B. Bener-bener berusaha meyakinkan dan terus mengatakan dirinya lebih rendah dibanding apa yang gw ungkapkan.

Ga, gw tau dia itu A dan bukan B ky gw. Gw ga pernah ngerti kenapa begitu bersikerasnya orang itu mengakui dirinya adalah B di saat yang gw sadari adalah dia itu A. Itu hanya menambah BURUK pandangan gw sendiri akan kekurangan gw. Maksudnya, saat dia bilang diri dia B, trus gw apa dong? C, D, atau ga lulus?? (Na'udzubillah min dzalik)

Apa salah gw yang terlalu sok tahu? (ini bukan jenis komentar gw banget)

Atau dianya yang sok mau merendah? (su'udzon)

Atau dianya yang mau disama-samain ky gw? (kegeeran)

Yang gw tahu pasti adalah kita beda. Sebodo amat lo mau bilang sama. Kenyataannya tetep ga gitu. Gw masih harus terus  meng-upgrade diri berkali-kali lipat lagi untuk mendapatkan posisi yang sama dengan lo di mata ini.

Perlu digarisbawahi, seperti apapun yang berusaha gw lakukan, gw melakukan ini untuk diri gw sendiri. Apapun yang akan terjadi nantinya.

*ditulis di sela-sela ngoreksi lab PA*

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *