Hate

Nyam nyam nyam.

Ini cara terakhir yang saya coba untuk kembali ke titik semula: nulis di Tumblr. Berbagi, mungkin, adalah kuncinya.

Seperti kata-kata yang saya twit beberapa jam lalu: “saat saya ngetwit yg ‘aneh aneh’ adalah saat saya gtw lg mw ngomong sama siapa.. tp jatohnya malah jd ngomong ke semuanya.haha.lucu.

Ya, saya akui ini semua memang diawali dengan kebodohan saya atas ketidakmampuan mengontrol rasa penasaran yang menghasilkan suatu tindakan, yaitu: K*** atau dalam bahasa Inggris diawali dengan huruf S.

Dulu, ketika pernah ada orang yang bertanya “Lo marah kalo ada apa sih, Sor? Kok lo seneng-seneng mulu keliatannya.” Saya akan bingung menjawabnya karena pertama, saya ga pernah benar-benar memikirkan apa yang ditanyakan orang itu dan apa yang Anda liat dari saya adalah (biasanya) apa yang saya rasakan, tanpa ditutupi-tutupi.

Hingga ketika hari ini saya menyadari satu hal yang bikin saya kesel sekesel-keselnya.

Awalnya, saya menyangka ketidaksukaan saya itu ialah atas isi / kandungannya secara harfiah. Akan tetapi, sekarang saya sadar bahwa sebenarnya bukan ketidaksukaan saya atas A atau B yang menjadi 'ketidaksukaan’ saya yang sebenar-benarnya.

Memang apapun perlu diteliti lebih jauh. Cukuplah tertipu atas ketidaksukaan 'semu’ ini beberapa minggu belakangan membuat hati merah jambu saya menjadi kotor dan penuh dengan esensi sampah. Jauh di dalamnya, bukan ini substansi sebenernya, melainkan karena beberapa hal.

Pertama, X ini membuat ada perbedaan antara beberapa pihak dekat yang sebenarnya pada dasarnya berada pada zona yang sama.

Kedua, X ini menganggap dan dianggap (oleh beberapa pihak) lebih superior.

Ketiga, X ini seperti memiliki 'benteng pertahanan'nya sendiri.

Apakah X itu? Haha. Bukanlah menjadi hal yang penting lagi apakah X itu karena saat saya menyadari bukan ITU poin intinya, ia menjadi seperti hal-hal duniawi pada umumnya: memiliki kelebihan dan kekurangan.

Yang membuat saya ga suka adalah apa yang disebabkan oleh X itu dan apa yang saya ketahui tentangnya.

Terlebih, yang membuat perut saya makin seperti sedang berhadapan dengan soal-soal AKL adalah seseorang yang memicu terjadinya hal ini dan yang saya harap bisa memperbaiki, mengklarifikasi, atau membangun kembali diri saya justru ga terlihat MAU melakukannya. Yang dia lakukan ga lebih dari memberikan sisi negatif yang dia dapat dari X itu (from different side of mine, of course), menyuruh saya untuk terlibat lebih jauh tanpa memberikan solusi sebenarnya, dan seringkali diam–ga ada tanggapan lagi.

Mungkin udah tipenya gitu kali ya (cinta damai–plegmatis). Sebel sih, tapi saya sangat menyayanginya sama seperti saya menyayangi teman-teman saya yang lain. Jadi, ga terlalu masalah pula sih sebenarnya untuk hal yang satu itu.

Bagaimanapun juga, masalah, seperti halnya risiko, punya beberapa cara berbeda untuk menghadapinya, diantaranya: (1) hindari atau (2) hadapi. (ada dua lagi deh kyny, tapi lupa. hehe.)

Saat saya berusaha untuk menggunakan cara kedua, tetapi yang satu lagi malah memilih cara pertama, menjadi ga sinkron kan? Dan kemudian ketika kami bertemu kembali namun sikapnya (dan akhirnya saya juga) seperti tanpa merasa pernah terjadi apa-apa, lalu apa yang bisa diharapkan?

But, there’s something that never change, although anything bad comes 😉

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *