Kisah Pak Deddi Nordiawan dan Ibu Hertin Ayuningtias Hiks Hiks

isnidalimunthe:

Ya Allah, ini terlalu unyuuuu ya Allah, haaaaaaaaaaaaa ~ semoga bisa jadi seperti ibu Hertin ya Allah, ih unyuuu abis sih ini, huaaaaaaaa, huaaaaaaaaaaa

Ini adalah sebuah catatan tentang istriku …

Aku mengenalnya di FEUI, sebagai mahasiswa tingkat 1 yang ternyata alumni TN. Dia tampak cerdas dari cara bicaranya, tapi aku ragu mendekatinya. Karena dia begitu gemerlap sebagai anak jakarta dengan HP, mobil dan gaya hidupnya. Kayaknya aku nggak cocok berdekatan dengan gadis seperti itu. Aku anak desa, yang datang ke kampus dengan baju seadanya, sepatu kats kualitas terbatas bahkan sandal jepit. Tapi entah kenapa, wajahnya berkelebat beberapa kali pada saat aku bermunajat di Multazam di tanah suci. Mungkin dia jodohku. Bermodal itulah, aku mendekatinya dan beberapa waktu kemudian memberanikan diri untuk mengajaknya menikah …

Di sinilah awal tercatatnya sebuah kisah keteguhan hati dan kelapangan jiwa seorang gadis bernama Hertin. Dia bersedia menikah dengan seorang pemuda dengan status pengangguran, bahkan berhutang 50 juta atas bisnisnya yang tak kunjung jelas. Dia ternyata bukan gadis kota kebanyakan karena ternyata mampu mengurus sendiri suaminya yang terbaring sakit selama 8 hari tepat seminggu setelah pernikahan. Dia mampu mengurus rumah tangganya sendirian mulai masak sampai bersih2, tanpa pembantu, meskipun dirinya memiliki keterbatasan fisik yang signifikan. Sambil tetap ikhlas dengan pendapatan suami yang tetap tak kunjung menentu …

Ketika desakan ekonomi menguat, dia kemudian rela menjual mobil Lancer kesayangannya, pemberian almarhum papanya tercinta. Kita hidup pas-pasan saja, semboyan kita waktu itu, semoga pas butuh pas ada. Sungguh sebuah keadaan yang tidak terbayangkan setahun sebelumnya, ketika sebelum menikah dimana dirinya hidup serba berkecukupan (pas mau pasti ada), tiba2 bandul takdir membuatnya hidup dalam ketidakjelasan dalam hutang ratusan juta, impian sekolah S2 dan mimpi2 lain pun dibuang jauh2. Aku menyaksikan tangisan2nya dalam tahajud dan aku bertekad jikalau ada kelebihan suatu saat nanti biarlah itu untuknya …

Allah Maha Baik. Sang Khalik memberikan sinyal dengan me-skenariokan kelahiran Ayasha dalam keadaan istriku puasa Asyura. Dan ayasha pun menjadi tonggak. Perusahaan mulai menghasilkan profit signifikan untuk membuat hutang terselesaikan sampai akhirnya kita pindah ke rumah sendiri …

“Aku tidak sempurna, lalu ngapain aku menuntut orang lain sempurna”, itulah resepnya untuk selalu kembali menemukan kehidupan setelah tersakiti. Betapa sering suaminya melakukan kesalahan, tetapi entah bagaimana pintu maafnya selalu terbuka … dia sangat pemaaf, katanya mau meneladani sebuah kisah nabi tentang sahabatnya yang menjadi ahli sorga karena setiap malam menjelang tidur melepaskan semua beban dan memaafkan semua orang yang menyakitinya …. 

Aku tahu, istriku berusaha sangat keras memahami suaminya, yang penuntut dan perfeksionis urusan tradisi rumah tangga. Dia betul2 tahu, apa yang membuat suaminya marah, sedih atau tertawa. Dia mencatat resep2 makanan favoritku, memasaknya meskipun dia harus nggak makan karena bukan seleranya. Istriku ini menyiapkan baju, kaos kaki, ngecharge HP, menyiapkan dompet, sampai duduk manis menemani makan … tak terputus setiap hari!!

Istriku pun seorang akuntan intelektual. Ketika tuntutan pekerjaan memuncak, membuat tiada beda siang dan malam, istriku menjadi penyelamat, dia menjadi partner diskusi dan penulis laporan yang handal …

Itulah istriku … yang kini bersama ayasha dan hafa menjadi sumber kesejukan mata dan jiwa …

Selamat Ulang Tahun Istriku, aku yakin pengabdianmu pada suami membuat Allah semakin mencintaimu …

tulisan dapat dilihat juga di http://deddinordiawan.com/2008/06/07/6-juni-2008-hari-ini-istriku-ulang-tahun/

<3 <3 kereeeen

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *