Pembohongan Seru Part Satu

Sabtu lalu dimulai dengan sms ngagetin dari Kak Ijonk buat kumpul di Balairung jam setengah 8. Padahal ya, kemarinnya itu kak ijo ngejarkomnya kumpul jam 8.15. Padahaalll (lagi).. gw baru baca sms ralat tersebut pada saat gw bangun untuk siap-siap sesuai jam awal, yaitu jam 7, dan sangat amat ga memungkinkan seorang wanita untuk bersiap-siap hanya dalam waktu setengah jam. Hal ini khususnya berlaku buat seseorang yang nyawanya belum penuh ngumpul, belum mandi dari kemarin pagi, belum nyiapain perlengkapan seperti jakun dan sebagainya, baru tidur jam 2 pagi, serta belum jemur baju yang sudah dicuci malamnya (kecuali gw ga mandi, ga ganti baju, trus itu balairung ada di depan kosan gw).

Meluncur kesana dari Kapuk sekitar jam 8 dan sampai sana jam 8 lewat 15, untungnya (loh?) belum banyak yang datang, jadinya gw ga merasa dosa dosa amat. Hehe.

Perlu gw kasih tau dulu dan perlu diingat ya teman-teman, instruksi sebelumnya adalah: “Jadi kita akan perkenalan BPH BEM UI ke maba. Nanti kenalin diri satu-satu. Abis itu nyanyi Totalitas Perjuangan, trus turun ke maba-mabanya. Kita bakal jadi trigger buat dinamika angkatan.”

Sebagai orang yang tsiqoh (asik) gw pikir, ya udah sih ya, gitu doang. Bisa lah..

Hmm.. Paling yang perlu diperbaiki cuma hapalan lagu Totalitas Perjuangan itu. Gw, Cipi, dan Alin akhirnya latihan dengan bantuan Tika, Rani, Fahmi, dan Arman.

Kepada para mahasiswa
Yang merindukan kejayaan
Kepada rakyat yang kebingungan
Di persimpangan jalan

Kepada pewaris kerajaan
Yang telah menggoreskan
Sebuah catatan kebanggaan
Di lembar sejarah manusia

Sadar ada yang salah? 

Hahaha.

Kita bertiga ngulang lagu dengan teks itu tanpa nyadar akan kesalahan fatal kita (untungnya ga salah pas di panggung). Ketika sadar, ketawa ngakak lah kita semua. Yang benar itu:

Kepada para mahasiswa
Yang merindukan kejayaan
Kepada rakyat yang kebingungan
Di persimpangan jalan

Kepada pewaris peradaban
Yang telah menggoreskan
Sebuah catatan kebanggaan
Di lembar sejarah manusia

Udah ketemukah?

Good.

Nah, lanjut.

Sambil nunggu display lembaga yang lain, seperti DPM, MWA, dan BAK. Para anak BEM foto-foto dulu. Biasalah, anak muda. Tapi ga cuma foto-foto doang kok, yang mau tilawah juga dipersilakan *BEM edisi ramadhan*.

Beberapa menit sebelum maju (sekitar 45 menit setelah gw datang), kita dipanggil menuju backstage. Diaturlah barisan kanan-kiri. Gw kebagian sebelah kiri, diantara Zahra dan Arman.

Awalan dimulai dengan pemutaran video perkenalan BEM UI yang keren banget. Ini gw akui keren banget loh teman-teman, meskipun pas bagian gw ga banget. Haha.

Kemudian, Kak Maman ngasih aba-aba supaya kita maju sambil lari (mungkin biar kelihatan lebih keren). Gw, Alin, dan Cipi saling mengoreksi muka supaya nampak seperti ’aktivis’ pada umumnya. Namun sayang, segimanapun Cipi mencoba, dia ga bisa mencapai target yang diinginkan.

Video pun selesai..

Deg degan pun dimulai..

Entah Maman salah milih BPH atau gimana. Kita (terutama yang wanita-wanita), sekitar lebih dari setengahnya ga pernah ikut aksi. So, ini adalah kali pertama kita ber-‘hidup mahasiswa’ di depan khalayak.

Keadaan aman terkendali hingga lagu Totalitas Perjuangan selesai dinyanyikan.

Tapi tiba-tiba.. (di mana gw mulai mikir: sepertinya ada yang aneh).

Maman dan Ijonk berorasi.. 

Pintu-pintu balairung mulai ditutup..

Afin bolak balik nenteng toa..

Diki ga lagi stay di tempat perkenalan..

Lalu,

Maman meminta BPH dan Panitia OKK buat turun ke barisan maba.

Ngapain?

Bikin border.

Yak, bagus banget.

(bersambung)

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *