Saat Orde Phoenix Menjadi Nyata

Hal yang sangat gw suka adalah ketika menemukan analogi yang tepat untuk suatu peristiwa atau suatu cerita. Kenapa? Karena jadinya akan lebih menarik dan lebih ngena dibanding seharusnya. Seperti cerita senang-sedih-labil-galau-menyakitkan-love-allfeeling tadi malam sama–sebut saja–oknum SI dan KM.

***

Ketika para Orde Phoenix berkumpul di Grimauld Place 12.. lo ga pernah mikirin gimana rasanya jadi Neville Longbottom..

Ketka para Laskar Dumbledore latihan di kamar rahasia.. lo ga pernah mau tahu apa yang dipikirin Draco Malfoy..

Ketika Harry Potter merahasiakan apa yang dilakukannya dengan Dumbledore pada malam kematiannya, lo ga pernah peduli kenapa Prof. Minerva McGonagall sebegitu mendorongnya Harry untuk bercerita..

Ketika Paman Dursley dan keluarganya begitu resisten terhadap Harry, lo ga pernah ingin tahu kenapa mereka bersikap demikian..

Ketidaktahuan, kerahasiaan, pengelompok-kelompokan, ternyata bukan hal baru di jagat raya. Ga tau ya kemana aja gw selama 19 tahun ini. haha. Apakah hidup gw terlalu ‘main-main’-nya sehingga ga menyadari apa yang terjadi di sekitar?

Akan tetapi, bukan masalah inti, tentu saja. Maksud gw, apakah non-orde ga ikut membantu melawan Voldemort saat ia dan para Pelahap Maut menyerang Hogwarts? Atau apakah McGonagall jadi ga melindungi Harry saat ia tidak diberitahu tentang rahasia Harry-Dumbledore? Bukan, bukan. Mereka semua sama. Mereka semua dipersatukan oleh keinginan mereka akan Dunia Sihir yang damai–bebas dari Voldemort dan para Pelahap Maut.

Itu sih positifnya, tapi somehow akan ada yang namanya perasaan-perasaan berbeda itu. Paman Dursley sebegitu bencinya kepada Harry-Potter-si-anak-yang-berbeda sehingga saat sepulangnya dari jalan-jalan bersama Dudley dengan keadaan anaknya yang berbeda: kejang-kejang, si Paman ga bertanya dulu kenapa anaknya bisa begitu, namun langsung menuduh Harry lah yang melakukan semuanya. Atau ketika Harry menerima serbuan surat dari Hogwarts sebelum tahun pertamanya di sekolah. Atau pula kenapa Paman langsung mengurung Harry di kamar bawah tangga setelah di kebun binatang menghadapi kenyataan bahwa ternyata Harry dapat berbicara dengan ular. Itu karena ia merasa berbeda dengan Harry. Mungkin ia berpikir memperlakukannya secara berbeda bukan hal buruk. Salah? Mungkin terlalu cepat untuk mencap sekarang.

Yang salah adalah ketika ada di antara orde yang memandang penyihir non-orde tidak lebih baik daripadanya. Itu salah besar, tentunya. Mundungus Fletcher anggota orde, bukan? Tapi di saat yang sama dia adalah pengutil handal. Fred and George? Ya, mereka hebat tapi mereka juga adalah pembuat lelucon nomor satu. Sebaliknya, lihatlah bagaimana dengan Neville Longbottom, si pemberani itu? Atau Fleur Delacour dan Viktor Krum? Mereka bukan 'itu’ tapi mereka hebat dan berkontribusi.

Pertanyaannya: Perlu ga sih?

Bodoh ketika lo berpikir lo tahu semua hal yang ada di dunia. Konyol saat lo pikir lo akan senang saat tahu semua hal itu. Kita berbeda-beda. Pertama mesti pahami itu dulu. Lo ga mungkin kan ngira kita semua diciptakan sama? Kenapa sih perlu ada Orde Phoenix? Mungkin supaya ada yang fokus kepada gimana cara memusnahkan Voldemort. Kenapa sih Dunia Sihir perlu dirahasiakan? Mungkin karena ga semua orang nganggap sihir itu oke oke aja, mungkin ada yang nganggap sihir itu jahat kemudian berusaha menghancurkannya. Trus kenapa si Voldemort menciptakan Pelahap Maut? Mungkin karena ia tahu pepatah yang bilang: Kejahatan yang terorganisir akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir–atau seperti itulah kira-kira.

So, apakah karena adanya sentimen negatif itu lo ga mau ikut membasmi kejahatan?

Ultimately, no!

Kejahatan adalah perkara umat manusia, bukan sekedar kelompok belaka.

***

Selesai 09:00 A.M. @kosan

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *